1 Agu 2010

Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid

















Lombok adalah sebuah pulau di Nusantara yang berada di sebelah timur pulau Bali. Masuknya Islam ke Lombok sekitar abad ke-14 tidak jauh berbeda dengan daerah sekitarnya, seperti Makasar, Buton, Bone, Sumbawa, dan pulau-pulau lainnya di sekitar Nusa Tenggara. Menurut Raden Itarawan (1998), Islam masuk ke Lombok dibawa oleh Sunan Giri bersama dengan 44 pengikutnya ketika terdampar di desa Bayan yang penduduknya masih menganut paham animisme. Penyebaran Islam di Lombok ditandai oleh peninggalan Masjid “Belek” di Bayan.

Dari sinilah, Islam di Lombok terus berkembang sebagai agama yang dianut oleh masyarakat. Perkembangan Islam di Lombok seiring dengan kemunculan para penyebar Islam (juru dakwah) seperti apa yang penah diajarkan Sunan Giri untuk membebaskan masyarakat dari paham animisme menjadi masyarakat Muslim. Pada gilirannya, lahirlah sosok-sosok ulama Lombok pada awal abad ke-20 yang disebut Tuan Guru yang memiliki pengetahuan agama yang luas untuk meneruskan tradisi dakwah dari para pendahulunya yang telah meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga serta membebaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan akibat kolonialisme Belanda.

Misi penyebaran Islam yang dulunya diwakili oleh para Wali Jawa diambil alih oleh Tuan Guru yang dibarengi pula pertumbuhan pondok pesantren yang menyedot banyak pengikut dari segala penjuru dan dari luar pulau Lombok. Perjuangan Tuan Guru diarahkan untuk mensucikan Islam dari unsur-unsur kepercayaan lain dengan menganjurkan kembali pada al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber pedoman Islam yang utama (Erni Budiawanti (2000).

Dalam konteks ini, muncullah seorang ulama terkenal di Lombok, yakni Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang dilahirkan di Kampung Bermi Pancor, Lombok Timur pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1324 H/1906 M. Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin AM dibesarkan di tengah-tengah keluarga religius dan sangat dihormati masyarakat. Berdasarkan penelitian doktoral yang dilakukan Erni Budiawanti (2000), TGH Muhammad Zainuddin AM termasuk salah seorang ulama yang memiliki banyak pengikut di Bayan bersama tuan guru lainnya; yakni TGH Hazmi Azar dan TGH Safwan Hakim. Ayahnya, Tuan Guru Abdul Majid, merupakan tokoh agama dan tokoh maasyarakat yang sangat disegani, dihormati, dan kharismatik. Ayahnya juga dikenal sebagai tokoh pemberani yang pernah memimpin pertempuran melawan kaum penjajah Belanda, Jepang, serta melawan kerajaan Hindu Bali (Karangasem) yang menguasai daerah Lombok.

Sejak kecil, TGH Muhammad Zainuddin AM diakui sangat cerdas, jujur, pandai dan memiliki otak brilian. Tak mengherankan, jika Ayahnya menaruh perhatian yang khusus kepadanya yang diharapkan dapat melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama di Lombok. Pada usia 6 tahun, ia sudah fasih membaca al-Qur’an di bawah bimbingan ayahnya langsung. Pada masa inilah, ia memperdalam ilmu pengetahuan agama secara langsung dari beberapa ulama di sekitar Lombok, yakni TGH Syarafuddin di Pancor dan TGH Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur. Di bawah ketiga ulama Lombok inilah, TGH Muhammad Zainuddin AM dibekali pengetahuan agama secara memadai untuk melanjutkan tradisi intelektual yang telah berkembang di Lombok.

Setelah mendapat pengetahuan agama dari ulama-ulama Lombok, TGH Muhammad Zainuddin AM dikirim ayahnya ke Mekah al-Mukarromah. Tepatnya pada usia 17 tahun, ia belajar kepada ulama-ulama Mekah tentang berbagai disiplim ilmu pengetahuan agama selama 12 tahun. Di Masjidil Haram lah, ia mula-mula belajar dengan mendapatkan guru-guru yang sudah ditentukan oleh ayahnya sendiri. Pada tahun 1928, ia melanjutkan studinya di Madrasah Ash-Shaulatiyah yang pada saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah putra Syaikh Rahmatullah, pendiri Madrasah Ash-Shaulatiyah. Madrasah ini adalah madrasah pertama di tanah suci yang banyak menghasilkan ulama-ulama besar. Di madrasah inilah, ia belajar berbagai ilmu pengetahuan agama dengan rajin di bawah bimbingan ulama-ulama terkemuka di kota suci Mekah.

Setelah menimba ilmu di Mekah, TGH Muhammad Zainuddin AM kembali kampung halamannya, Pancor, Lombok Timur untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya di Mekah sekaligus untuk mewujudkan obsesinya melanjutkan kepemimpinan orang tuanya sebagai tokoh agama yang akan menegakkan ajaran-ajaran agama. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada tahun 1934. Madrasah ini khusus diperuntukkan bagi santri pria (Wildan, 1998). Pendirian madrasah ini bermula dari mengumpulkan para pemuda/remaja dalam bentuk halaqah atau majlis ta’lim. Inilah barangkali cikal bakal pendidikan agama di Nusantara selama berabad-abad.

Baru pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943, TGH Muhammad Zainuddin AM mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang dikhususkan kepada santri perempuan. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama yang berdiri di Lombok. Pada gilirannya, kedua madrasah ini diabadikan menjadi nama Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan (Wildan, 1998).

Hal ini tentu saja memberikan keyakinan intelektual betapa pesantren telah lama menjadi salah satu bentuk dari pendidikan agama yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak abad ke-13 atau sebelum datangnya penjajah Barat dari berbagai penjuru daerah, termasuk di Lombok. Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan swasta sudah sejak lama mempunyai diversifikasi dalam berbagai cabang keilmuwan (Karel A. Steenbrink, 1986) Pendidkan

Jaringan Intelektual

TGH Muhammad Zainuddin AM memiliki jaringan intelektual yang luar biasa, terutama silsilah guru-guru yang didapatinya selama di Mekah al-Mukarromah. Jaringan ini mencerminkan betapa luasnya pengembaraan mencari ilmu dan matangnya keilmuwan TGH Muhammad Zainuddin AM. Silsilah keilmuwan yang diperolehnya tidak dalam satu mata rantai dalam setiap cabang keilmuwan, melainkan beberapa guru yang memiliki kemampuan dan pengetahuan agama yang luas.

Guru-guru yang mengajarkan al-Qur’an dan kitab melayu:

1. T.G.H. Abdul Majid

2. T.G.H. Syarafuddin Pancor Lombok Timur
3. T.G.H. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur

4. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Syaik al-Kabir al-Arifubillah Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat

5. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Faqih Maulana al-Syaikh Umar Bajunaid al- Syafi’i

6. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Faqih Maulana Syaikh Muhammad Syaid al-Yamani al-Syafi’i

7. Al ‘Allim al-‘Allamah al-Mutaffanin Sibawaihi Zanamihi Maulana Syaikh Ali al-Maliki

8. Maulana Syaikh Abu Bakar al-Falimbangi

9. Maulana Syaikh Hasan Jambi al-Syafi’i

10. Al ‘Allim al-‘Allamah al-Muffasir Maulana al-Syaikh Abdul Qadir al-Mandili al-Syafi’i

11. Al ‘Allim al-‘Allamah al-Shufi Maulana Syaikh Muhtar Betawi al-Syafi’i

12. Al ‘Allim al-‘Allamah al-Muhaddis Maulana Syaikh Umar Hamdan al Mihrasi al-Maliki

13. Al ‘Allim al- ‘Allamah al-Muhaddis Maulana Syaikh Abdul Qadir al-Syibli al-Hanafi

14. Al ‘Allim al-‘Allamah al-Adib al-Shufi Maulana Syaikh al-Syayid Muhammad Amin al-Kuthbi al-Hanafi

15. Al ‘Allim al-‘Allamah Maulana Syaikh Muhsin al-Musahwa al-Syafi’i

16. Al ‘Allim al-‘Allamah al-Falaqi Maulana Syaikh Khalifah al-Maliki

17. Al ‘Allim al-‘Allamah Maulana Syaikh Jamal al-Maliki

18. Maulana Syaikh al-Shahih Muhammad Shalih Mukhtar al-Makhdum al-Hanafi

19. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Syafi’i Maulana Syaikh Mukhtar al-Makhdum Al Hanafi

20. Maulana Syaikh al-Syayid Ahmad Dahlan Sadakah al-Syafi’i

21. Maulana Syaikh Salim Cianjur al-Syafi’i

21. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Muarrikh Maulana Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki

22. Maulana Syaikh Abdul Gani al-Maliki

23. Maulanasyaikh al-Syayid Muhammad Arabi al-Tubani al-Jasairi al-Maliki

24. Maulana Syaikh al-Faruq al-Maliki

25. Maulana Syaikh al-Wa’id al- Syaikh Abdullah al-Farisi

26. Maulana Syaikh Mala Musa

Guru Ilmu Tajwid, al-Qur’an dan Qiraat Sab’ah:

1. Al-Syaikh Jamal Mirdad (Imam dimakam Imam Hanafi di Masjidil Haram)

2. Al-Syaikh Umar Arba’in (Ahli Qur’an dan Qasidah yang sangat terkenal)

3. Al-Syaikh Abdul Latif Qari (Guru besar di Qiraat Sab’ah di Madrasah 4. Ashaulatiyah)

4. Al-Syaikh Muhammad Uba’id (kepala guru/Guru besar dalam bidang Tajwid dan Qiraat yang sangat terkenal di Makkah).

Ilmu Fiqih, Tasawuf, Tajwid, Usulul Fiqih dan Tafsir:

1. Al-‘Alamah ‘al-Syaihk Umar Bajunaid al-Syafi’i

2. Al-‘Alimul al-Alamah al-Syaikh Muhammad Said al-Yamani

3. Al-‘Alamah al-Syaikh Muhtar Betawi

4. Al-‘Alamah al-Syaihk Abdul Qadir al-Mandili (Murid Khusus dari al- ‘Allamah

5. Syaikh Ahmad Hamud Minangkabau Sumatera Barat)

6. Al-‘Alamah al-Faqih Abdul Hamid Abdur Rabb al-Yamani

7. Al-‘Mutaffanin al-‘Allamah al-Syayid Muhsin al-Musawa (Musisi Pendiri Darul Ulum al-Diniyah Makkah Mukarramah)

8. Al-‘Allamah al-Adib al-Syaikh Abdullah al-Lajahi al-Farisi (Pengarang Yang Sangat Terkenal)

Guru Ilmu Arud (Syair Bahasa Arab):

1. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Syaikh Abdul Qani al-Qadli

2. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Adib al-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi

Guru Ilmu Falak:

1. Maulana Syaihk Cianjur (Jawa Barat)

2. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Falaki Maulana Syaikh Khalifah al-Makki

3. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Dahlan Sadakah al-Syafi’i

Guru Ilmu Hadits, Mustalahul Hadits, Mustahul Tafsir, Ilmu Fara’id, Sirah (Tarikh) dan Berbagai Ilmu Alat (Nahu-Syaraf):

1. Al-‘Allamah al-Qabir Sibawaihi Zamanihi al-Syaikh al-Maliki

2. Al-‘Allamah al-Jalil Asyaikh Jamal al-Maliki

3. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Kabir al-Muhaddist Maulana Syaihk Umar Hamdan al-Mihrazi al-Syafi’i

4. Al ‘Allimul ‘Allamah al-Kabir al-Muhaddist Maulana Syaikh Abdullah al-Buhari al-Syafii (Mufti Istanbul)

5. Maulanna Wamurabbi Abil Barokah al-‘Allim al-‘Allamah al-Ushuli al-Muhaddist al-Shufi al-‘Arifubillah Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat al-Maliki

6. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Shorfi Maulana Syaikh Muftar Makdum al-Hanafi

7. Al-‘Allim al-‘Allamah Maulana Syaikh al-Sayyid Muhsin al-Musawa

8. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Adeb al-Shufi Maulana Shaihk al-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi

9. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Syaikh Umar al-Faruk al-Maliki

10. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Kabier al-Syaikh Abdul Qadir al-Syalabi al-Hanafi

Guru Ilmu Arwad (Ahzab):

1. Al-‘Allim al-‘Allamah (Kyai Falaj) (Bogor Jawa Barat)

2. Maulana Syaihk Malla Musa al-Maqribi

Guru Khat (Kaligrafi):

1. Al-Khattah al-Syaikh Abdul Aziz Langkat

2. Al-Khattah al-Syaihk Dau al-Rumani al-Fhatani

3. Al-Khattah al-Syaihk Muhammad al-Ra’is al-Maliki

Dari semua guru TGH Muhammad Zainuddin AM, ada lima guru/ulama yang sangat berjasa dalam membimbing dan mendidiknya di Mekah: Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat al-Maliki, Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi, Syaikh Umar al-Faruk al-Maliki, dan Syaikh al-Sayyid Umar Hamdan al-Mihrasi al-Syafi’i.

Kiprah Sosial-Keagamaan

Melihat kondisi masyarakat Lombok yang masih terbelenggu oleh kebodohan dan keterbelakangan, TGH Muhammad Zainuddin AM merasa tertantang untuk membenahi masyarakatnya yang masih dalam jajahan Belanda, Jepang, Hindu Bali (Anak Agung Karangasem) melalui pencerdasan agama. Kepulangannya dari Mekah pada tahun 1934 ketika terjadi peperangan antara Raja Syarif Husein dengan Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman sehingga ia kembali ke Lombok untuk membuka pengajian pemula untuk masyarakat dengan sistem halaqah (Abdul Hayyi Nu’man, 1998).

Pondok Pesantren yang didirikan diberi nama Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (membela tanah air) sesuai dengan obsesinya untuk membela tanah air dari kaum penjajah. Dengan berbekal ilmu yang dimiliki, ia mampu tampil sebagai seorang ulama yang mempunyai kompetensi besar dalam membentuk kader ulama. jenjang pendidikan yang khusus untuk mencetak kader ulama diberi nama Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits. Sebagai seorang Mujahid, TGH Muhammad Zainuddin AM berupaya melakukan inovasi untuk meningkatkan pengetahuan agama masyarakat. Itu sebabnya, ia membuat rintisan dengan memperkenalkan sistem madrasi dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran agama di NTB, membukan lembaga pendidikan khusus bagi wanita, mengadakan Syafatul Qubra, meciptakan hizib tarekat Nahdaltul Wathan, membuka sekolah umum di samping sekolah agama, menyususn nazham berbahasa Arab bercampur bahasa Indonesia.

Berikut ini kiprah sosial-keagamaan TGH Muhammad Zainuddin AM:

1. Pada tahun 1943 mendirikan Pesantren Al-Mujahidin

2. Pada tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI

3. Pada tahun 1943 mendirikan Madrasah NBDI

4. Pada tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok

5. Pada tahun 1946 Pelopor Penggempuran Nica di Selong Lombok Timur

6. Pada tahun 1947/1948 menjadi Amirul Hajji dari negara Indonesia Timur

7. Pada tahun 1948/1949 Anggota delegasi Negara Indonesia Timur ke Saudi Arabia

8. Pada tahun 1950 Konsultan NU Sunda Kecil

9. Pada tahun 1952 Ketua badan penasehat Masyumi Daerah Lombok

10. Pada tahun 1953 Mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan

11. Pada tahun 1953 Ketua Umum PBNW pertama

12. Pada tahun 1953 Merestui terbentuknnya NU dan PSII di Lombok

13. Pada tahun 1954 Merestui terbentuknya PERTI Cabang Lombok

14. Pada tahun 1955 Anggota Konstituante RI hasil Pemilu I 1955

15. Pada tahun 1964 Menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung

16. Pada tahun 1964 Mendirikan Akademi Paedagogik NW

17. Pada tahun 1965 Mendirikan Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist Al Majidiah Asy Syafi’iyah Nadlatul Wathan

18. Pada tahun 1972/1982 Anggota MPR RI hasil Pemilu II dan III

19. Pada tahun 1971/1982 Penasehat Majelis Ulama’ Indonesia Pusat

20. Pada tahun 1974 Mendirikan Ma’had Lil Banat

21. Pada tahun 1975 Ketua Penasehat bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram

22. Pada tahun 1977 Menjadi Rektor Universitas Hamzan Wadi

23. Pada tahun 1977 Mendirikan Universitas Hamzan Wadi

24. Pada tahun 1977 Mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzan Wadi

25. Pada tahun 1978 Mendirikan STKIP Hamzan Wadi

26. Pada tahun 1978 Mendirikan Sekolah Ilmu Syari’ah Hamzan Wadi

27. Pada tahun 1982 Mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzan Wadi

28. Pada tahun 1987 Mendirikan Universitas Nahdlatul Nathan di Mataram

29. Pada tahun 1987 Mendirikan Sekolah Ilmu Hukum Hamzan Wadi

30. Pada tahun 1990 Mendirikan Sekolah Ilmu Da’wah Hamzan Wadi

31. Pada tahun 1994 Mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) putra putri

32. Pada tahun 1996 Mendirikan Institut Agama Islam Hamzan Wadi

Pemikiran dan Karyanya

Konsep pendidikan yang diajarkan adalah bahwa pendidikan tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi juga pemupukan moral, melatih dan mempertinggi nilai-nilai kemanusiaan. Karena pendidikan adalah kewajiban manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Dalam hal ini, usaha yang ia pikirkan dan praktikkan adalah pengembangan pendidikan Islam melalui pesantren. Yakni, berusaha mengembangkan pesantren dengan menerima beberapa pemikiran alternatif yang dapat dijadikan sebagai masukan/kontribusi bagi pengembangan pesantren sejalan dengan perubahan zaman. Karena itu, menurut TGH Muhammad Zainuddin AM, pesantren mesti merubah orientasinya dengan tidak sekadar berorientasi pada pencarian ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu yang lain.

TGH Muhammad Zainuddin AM dikenal sebagai ulama yang tidak sekadar menekuni dunia pendidikan di pesantren dan masyarakat, tetapi juga sebagai penulis dan pengarang yang produktif yang bakatnya ini timbul sejak masih belajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah di Mekah. Beberapa karya yang dihasilkannya di antaranya dalam bentuk kitab, kumpulan doa, dan lagu-lagu perjuangan dalam bahasa Arab, Indonesia, dan Sasak.

Karya-karyanya antara lain:

1. Risalah al-Tauhid

2. Sullam al-Hija’

3. Syarah Safinah al-Najah

4. Nahdlah al-Zainiyyah

5. Al-Tuhfah al-Ampananiyah

6. Al-Fawakih al-Nahdliyyah

7. Mi’raj al-Sibyan ila Samaim al-Bayan

8. Anfat ‘Ala Tarikah al-Tsaniyah

9. Hizib Nahdlatul Wathan

10. Hizib Nahdlatul Banat

11. Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan

12. Batu Ngumpal Anak Nunggal

13. Tarekat Batu Ngumpal

14. Wasiat Renungan Masa I

15. Wasiat Renungan Masa II

16. Ta’sis NWDI

17. Imamuna al-Syafi’i

18. Mi’raj al-Sibyan

19. Siraj a-Qulub fi Da’iyat ‘Alamat al-Guyub

Banyaknya karya yang telah ia terbitkan mencerminkan ketinggian ilmu yang dimilikinya, sehingga oleh guru-gurunya TGH Muhammad Zainuddin AM mendapat pujian dan kepercayaan yang besar. Di antaranya, ia pernah diberi kesempatan untuk memberikan kata pengantar dari gurunya Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat. Dalam kata pengantar yang ia tulis untuk kitab Baqi’ah al-Mustarsyidin karya Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat sambil mengutip hadist Nabi Saw mengatakan: “Janganlah kamu mempelajari ilmu syariat dari seseorang kecuali dari orang yang baik riwayat hidupnya dan hatinya dan kamu sekalian telah menyelidiki atas keamanahannya”. Dari Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat inilah, ia pernah mendapatkan risalah/ijazah dengan seluruh isi kitabnya, “al-Irsyad bi al-Dzikr ba’da Ma’alim al-Ijazah wa al-Asnaf”. Dari sinilah, ia menukil sebagian ucapan gurunya tentang kehidupan pribadinya yang mantap, tetapi tetap menganggap dirinya adalah orang yang hina dan fakir dalam pengetahuan agama.

Syaikh Muhammad al-Mahsyat pernah memberikan sanjungan kepada TGH Muhammad Zainuddin AM. Berikut kutipannya: “Demi Allah saya kagum kepada Zainuddin, kagum pada kelebihannya atas orang lain pada kebesaran yang tinggi dan kecerdsannya yang tiada tertandingi, jasanya bersih ibarat permata menunjukkan kebersihan ayah bundanya dan karya-karya tulisnya indah lagi menawan penaka bunga-bungaan yang tumbuh di lereng pegunungan. Di lapangan ilmu ia dirikan ma’had, tetap dibanjiri thullab dab thalibat menuntut ilmu dan menggali kitab. Ia kobarkan semangat generasi muda menggapai mustawa dengan karyanya Mi’raj al-Sibyan ila Sama’i ‘Ilm al-Bayan. Semoga Alah memanjangkan usianya dan dengan perantarannya ia memajukan ilmu pengetahuan agama di Ampanan bumi Selaparang. Terkirimlah salam penghormatan harum semerbak bagaikan kasturi dari tanah Suci menuju “Rinjani” (Syaikh Muhammad Zainuddin AM dalam Mi’raj al-Sibyan ila Sama’i ‘Ilm al-Bayan).

Dengan demikian, TGH Muhammad Zainuddin AM selain dikenal sebagai ulama yang memiliki kepedulaian yang tinggi terhadap dunia pendidikan Islam, ia juga mampu menuliskan pikiran-pikirannya untuk memberikan warisan yang paling berharga bagi penerus-penerusnya.

Daftar Pustaka

Abdul Hayyi Nu’man, Nahdlatul Wathan Organisasi Pendidikan Sosial dan Dakwah Islamiyah, 1998

Erni Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LKiS, 2000)

Syaikh Muhammad Zainuddin AM, Mi’raj al-Sibyan ila Sama’I ‘Ilm al-Bayan, Lombok, Al-Anfanani, tt)

Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1986

Wildan, Kiprah Tuan Guru Haji Muhammad zainuddin Abdul Majid dalam Pengembangan Pendidikan Pesantren di Pancor Lombok Timur, Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Universi
tas Malang, 1998

1 komentar:

  1. kenapa gak pernah diangkat silsilah keluarga beliau dari TGH.ABDUL MJID. semua itu perlu sebagai pengetahuan sejarah bahwa NWDI berdiri bermula dari TGH.ABDUL MAJID beserta semua putra putranya pada zama penjajah dulu didukung oleh sesepuh masarakat kala itu.trims

    BalasHapus